croPLUS: Sejarah
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Mendidik Anak Ala Rasulullah Saw


Cara mendidik Anak Ala Rasulullah - Bagaimana cara Rasulullah mendidik anaknya agar menjadi baik dan benar

Rasulullah SAW adalah teladan umat muslim sedunia yang merupakan insan yang paling sempurna akhlaknya. Sehingga dikatakan bahwa beliau Rasul adalah al-Qur'an berjalan. Setiap orang tua pastinya menginginkan anaknya menjadi insan yang shaleh dan berpendidikan. yang menjadi permasalahannya adalah "Bagaimana cara Rasulullah mendidik anaknya agar menjadi baik dan benar???". Berikut ini merupakan salah satu contoh yang mungkin bisa menjadi teladan buat kita semua. Yaitu cara-cara mendidik anak yang dilakukan oleh Rasululah Nabi Muhammad SAW. Banyak orangtua yang tidak begitu memperhatikan pendidikan agama pada anak-anaknya sehingga mereka hidup tanpa tuntunan. Padahal agama memberikan panduan lengkap mendidik anak. Nah, lewat tulisan ini saya akan memberikan gambaran jelas tentang cara mendidik anak ala Rasullulah SAW. Semoga menjadi Kisah teladan yang bermanfaat bagi kita semua.

 Anak ibarat kertas putih, yang bisa ditulis dengan tulisan apa saja. Peran orangtua sangatlah vital. Karena melalui orangtualah, anak akan menjadi manusia yang baik atau tidak.Rasulullah SAW, sebagai teladan paripurna, telah memberikan tuntunan bagaimana mendidik dan mempersiapkan anak. Dan hal yang paling penting adalah keteladanan dalam melakukan hal-hal yang utama. Inilah yang harus dilakukan orangtua. Bukan hanya memerintah dan menyalahkan, tapi yang lebih penting adalah memberikan contoh konkret. Secara simultan hal itu juga harus ditopang oleh lingkungan, pergaulan, dan masyarakat.

Pendidikan Islam benar-benar telah memfokuskan perhatian pada pengkaderan individu dan pembentukan kepribadian secara Islami. Semua itu dilakukan dengan bantuan lembaga-lembaga pendidikan Islam di dalam masyarakat tempat ia tinggal. Dan lembaga pendidikan Islam paling dini adalah orangtua dan keluarga, yang berperan sebagai madrasah pertama dalam kehidupan individu.
Selain itu juga masjid, sebagai lembaga agama yang berperan mendidik individu dalam meningkatkan kualitas iman kepada Allah SWT dan menumbuhkan perilaku baik di dalam dirinya. Juga sekolah, sebagai lembaga pendidikan yang berperan membekali individu dengan keterampilan-keterampilan yang harus dimiliki dalam kehidupan ini.

Seorang anak menjalankan seluruh kehidupannya di dalam lingkungan keluarga, maka keluarga sangat bertanggung jawab dalam mengajari anak tentang berbagai macam perilaku Islami. Keluarga juga bertanggung jawab untuk membekali anak dengan nilai-nilai pendidikan sosial yang baik.

Yang harus diperhatikan dan sangat penting dalam kehidupan anak yaitu pendidikan aqidah, lalu pendidikan rukun iman, pendidikan ibadah, dan pendidikan akhlaq. Sangat penting diajarkan kepada anak bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang mempunyai akhlaq yang mulia. Dan itu juga ditopang dengan contoh yang mereka temukan di dalam keluarga dan lingkungan.

Setiap anak muslim hendaknya diajari untuk selalu berakhlaq baik, seperti sikap ihsan, amanah, ikhlas, sabar, jujur, tawadhu, malu, saling menasihati, adil, membangun silaturahim, menepati janji, mendahulukan kepentingan orang lain, suci diri, dan pemaaf.

Akhlaq yang baik merupakan fondasi dasar dalam ajaran Islam. Dan akhlaq yang baik diperoleh dengan berjuang untuk menyucikan jiwa, mengarahkannya untuk berbuat , dan menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan maksiat. Oleh karena itu perbuatan ibadah tidak lain merupakan sarana untuk mencapai akhlaq yang baik. Dalam hal ini Rasulullah SAW adalah contoh yang paling baik, teladan yang paripurna, dunia akhirat.

Allah SWT berfirman; “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS Al Qalam:4).

Rasulullah SAW bersabda; “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq.” (HR Al-Bukhari).

• Ihsan
Ihsan adalah perbuatan manusia dalam melaksanakan seluruh ibadahnya secara baik dan menjalankannya secara benar. Perbuatan ihsan juga terdapat dalam bentuk interaksi dengan siapa pun makhluk Allah SWT. Ihsan mempunyai beberapa pengertian: Bersungguh sungguh dalam belajar dan profesional dalam bekerja. Membalas keburukan orang-orang yang berlaku salah dengan kebaikan atau menerima permintaan maaf dari mereka. Menjauhkan diri dari perilaku balas dendam dan memendam amarah (Setiap anak didik harus belajar memaafkan orang lain dan memberikan nasihat yang baik dengan penuh hikmah). Mengikuti jejak langkah Rasulullah SAW dalam memiliki nilai moral yang tinggi dan menjadikannya contoh utama dalam kehidupan ini.

Sebagaimana firman Allah SWT, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemunkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (OS An-Nahl: 90).

Rasulullah SAW juga bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat balk dalam berbagai hal. Seandainya kalian membunuh, bunuhlah dengan cara yang baik; dan seandainya kalian menyembelih, sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaknya salah seorang di antara kalian mempertajam mata pisaunya dalam membunuh binatang sembelihannya.” (HR Muslim).

• Amanah
Amanah adalah menyampaikan hak hak kepada orang yang memilikinya tanpa mengulur-ulur waktu. Sikap amanah dalam dunia ilmu pengetahuan berarti belajar dengan tekun dan rajin, sedangkan sikap amanah dalam berinteraksi dengan sesama manusia adalah dengan menjaga rahasia-rahasia mereka.
Sebelum Rasulullah SAW menjadi nabi, masyarakat Jahiliyah yang hidup di sekitar Rasulullah SAW selalu menjuluki beliau dengan kata-kata Al-Amin, “orang yang terpercaya”. Itu karena para rasul memang memiliki sikap amanah, begitu pula dengan hamba-hamba Allah yang shalih.

Allah SWT berfirman dalam surah An-Nisa, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.”

Rasulullah SAW bersabda, “Jadilah kalian orang yang amanah bagi orang orang yang telah mempercayaimu, dan janganlah kalian mengkhianati orang yang mengkhianatimu.” (HR Daraquthni).

• Ikhlas
Seorang anak harus diajari untuk berbuat ikhlas, baik dalam melaksanakan pekerjaannya maupun proses belajarnya. Semua itu harus mereka laksanakan dengan ikhlas, demi mendapatkan ridha Allah SWT. Jangan sampai perbuatan tersebut dilandaskan pada sifat munafik, riya’, atau hanya mendapatkan pujian dari orang-orang.

• Sabar
Seorang anak harus belajar bahwa kesabaran adalah mendapatkan sesuatu yang tidak disenangi dengan jiwa yang lapang dan bukan dengan kemarahan atau keluhan. Sikap sabar dapat termanifestasi melalui sikap, baik dalam melaksanakan ibadah maupun muamalah, serta menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan maksiat.

Oleh karena itu seorang mualim yang sabar akan menerima hal buruk dan siksaan terhadap dirinya dengan sikap yang tetap sabar.

Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga di perbatasan negerimu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS Ali Imran: 200).

Pada ayat yang lain Allah SWT berfirman, “Sesugguhnya hanya orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas.” (QS Az-Zumar: 10).

Rasulullah SAW bersabda, “Betapa menakjubkannya perkara orang-orang beriman, segala perkara mereka baik, dan hal itu tidak didapatkan kecuali oleh orang beriman. Apabila mendapatkan kebahagiaan, ia akan bersyukur dan itu adalah hal yang terbaik bagi dirinya. Begitu pula apabila ditimpa kesedihan, ia akan bersabar dan hal itu adalah yang terbaik bagi dirinya.” (HR Muslim).

• Jujur
Dalam menjalankan ibadah, muamalah, baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan, seorang mualim hendaklah berlaku jujur,hanya untuk mengharapkan ridha Allah SWT.

Seorang anak hendaknya diajarkan untuk memiliki sifat jujur, baik di dalam perkataan maupun perbuatannya, sehingga setiap ucapan yang keluar dari mulutnya sesuai dengan realitas yang ada. Tidak berbohong di hadapan orang lain, karena sifat bohong adalah satu ciri orang munafik.

Sifat jujur akan mendatangkan keberkahan dalam rizqi serta dapat membantu seseorang mualim untuk meraih nurani yang tenteram dan jiwa yang damai.

Allah SWT berfirman dalam AlQuran, “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu, dan mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya.” (QS AlAhzab: 23).

Rasulullah SAW bersabda, “Hendaknya kalian berlaku jujur. Karena kejujuran akan menunjukkan seseorang pada perbuatan baik, dan perbuatan baik akan membawa seseorang kepada surga.
Seseorang yang memiliki sifat jujur dan terus mempertahankan kejujurannya, di sisi Allah akan tercatat sebagai orang yang jujur. Dan hendaknya kalian menjauhkan diri dari sifat bohong. Karena kebohongan akan menyeret seseorang pada dosa, dan dosa akan mengantar manusia ke pintu neraka. Seseorang yang berbuat bohong dan masih terus melakukan kebohongan, di sisi Allah akan tercatat sebagai pembohong.” (HR Muslim).

• Tawadhu’
Seorang anak hendaknya diajari bahwa tawadhu’ atau rendah hati hanya dapat dicapai dengan menjauhkan diri dari sifat sombong di hadapan hamba Allah yang lain. Jalinlah hubungan dengan fakir miskin, karena doa mereka mustajab. Dan bergaullah dengan baik dengan siapa saja.

Usahakan untuk menjauhkan diri dari sikap angkuh, mengagung-agungkan diri, baik dengan memperlihatkan harta, mahkota, maupun ilmu pengetahuan. Jangan suka dengan puji-pujian yang berlebihan atau penghormatan di luar batas.

Salah satu sikap tawadhu’ Rasulullah SAW, beliau sangat tidak suka orang-orang memberikan pujian kepada beliau atau berdiri untuk memberi penghormatan kepada beliau. Tidak hanya itu, Rasulullah SAW juga tidak pernah membedakan diri beliau dengan para sahabat beliau sehingga beliau pun mengerjakanapa yang para sahabat kerjakan. Rasulullah pun terbiasa bercanda dengan para sahabat, mendatangi mereka, bermain dengan putra-putra mereka, dan memulai untuk mengucapkan salam atau menjabat tangan para sahabat terlebih dahulu.

Allah SWT berfirman dalam surah Al Furqan: 63, “Dan hamba-hamba yang baik dari Tuhan, Yang Maha Penyayang, adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati; dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.”

Begitu juga dalam firman lainnya. “Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan yang baik itu adalah untuk orang-orang yang bertaqwa.” (QS Al-Qashash: 83).

• Malu
Seorang anak hendaknya diajari bahwa malu adalah bagian dari iman, yang dapat mendekatkannya pada kebaikan dan menjauhkan dari keburukan.

Sikap malu akan mencegah seorang mualim untuk melakukan perbuatan dosa. Selain itu juga akan menjadikan seorang mualim untuk berbicara benar dalam berbagai kondisi. Rasulullah SAW adalah orang yang,sangat pemalu, sehingga beliau tidak pernah berbicara kecuali yang baik-baik saja.
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa tidak memiliki rasa malu, maka ia tidak memiliki keimanan.” (HR Bukhari Muslim).

• Saling Menasihati
Seorang anak hendaknya diajari bahwa nasihat adalah perkataan yang tulus, terlepas dari maksud-maksud tertentu ataupun hawa nafsu. Maka seorang mualim hendaknya memberikan nasihat kepada mualim lainnya. Karena nasihat dapat melepaskan seseorang dari api neraka. Sering memberi nasihat juga bagian dari akhlaq para nabi dan rasul.

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Ashy ayat 3, “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan aural shalih dan nasih-menasihati supaya menetapi kesabaran.”

Rasulullah SAW juga bersabda, “Agama adalah sebuah nasihat.”

Para sahabat bertanya, “Bagi siapa, wahai Rasulullah?”

Rasulullah menjawab, “Bagi (milik) Allah, para rasul, dan seluruh kaum mualimin.” (HR Muslim).

• Adil
Seorang anak haruslah diajari bahwa keadilan adalah sifat utama, yang mana seseorang menempatkan sesuatu pada tempatnya. la haruslah menjunjung tinggi sifat kebenaran dan membela mereka yang terzhalimi.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah SWT menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan….” (QS An-Nahl: 90).

Rasulullah SAW bersabda, “Orang orang sebelum kalian telah hancur; karena apabila mereka yang terhormat mencuri, mereka akan membiarkannya, tetapi apabila ada orang lemah yang mencuri, mereka menerapkan hukum kepadanya.” (HR Al-Bukhari).

• Membangun Silaturahim
Silaturahim adalah berbakti dan berbuat baik kepada orangtua serta kaum kerabat. Di samping itu juga menjaga hak-hak para tetangga dan orangorang lemah. Semua itu dilakukan untuk mempererat ikatan hubungan di antara keluarga dan untuk menumbuhkan rasa cinta di antara manusia. Yang termasuk dalam bagian silaturahim adalah berlaku baik dan sopan ketika bertemu dengan kaum kerabat, serta menyambut kedatangan mereka dengan suka cita.

Silaturahim juga dapat diartikan sebagai mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui cara mengikatkan tali kekeluargaan, menyambut kedatangan para tetangga dengan suka cita, dan menampakkan wajah senang ketika bertatap muka dengan mereka.

Tidak hanya itu, silaturahim juga dapat termanifestasi melalui menjenguk orang yang sakit, dan membantu meringankan beban mereka.

Allah SWT berfirman, “Dan orangorang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.” (QS Ar-Ra’d: 21).

• Menepati Janji
Tanamkan rasa percaya kepada anak bahwa menepati janji yang telah dibuatnya merupakan salah satu tanda orang beriman, dan Allah SWT menyukai hal itu. Kalau ia tidak mampu menepatinya, ajarkan pula untuk minta maaf.

Menyalahi janji termasuk dalam kategori perbuatan hina, karena perbuatan itu hanya akan menghilangkan kepercayaan dan rasa hormat.

Tidak hanya itu, perbuatan tersebut juga akan melahirkan kemurkaan Allah. Allah SWT berfirman, “Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.” (QS Al-Isra: 34).

• Mendahulukan Kepentingan Orang Lain
Ikhlas berkorban dan mendahulukan kepentingan orang lain termasuk dalam perbuatan-perbuatan yang utama dalam ajaran Islam. Sikap ini terimplementasi dalam bentuk mencintai orang lain, melayani kebutuhan kaum mualimin, berkorban demi kepentingan mereka, dan memiliki keyakinan bahwa ikatan persaudaraan dalam Islam dan mendahulukan kepentingan sesama saudara mualim merupakan akhlaq mulia.

Oleh karena itu marilah bersegera melaksanakan perbuatan wajib demi mendapat ridha Allah SWT tanpa harus menunggu ucapan terima kasih. Dan mulailah mendahulukan kepentingan orang lain, karena sifat itu dapat membebaskan seorang mualim dari sifat egois.

Allah SWT berfirman, “Dan mereka mengutamakan (orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan spa yang mereka berikan itu. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang yang beruntung.” (QS Al-Hasyir: 9).

Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah beriman seseorang sebelum mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.”

Mari kita ajarkan kepada anak-anak kita untuk berkasih sayang dengan sesama, terutama kepada orang-orang lemah dan tertindas. Tidak merendahkan atau menyakiti, apalagi mencela mereka. Hendaklah kita selalu bersikap lemah lembut kepada makhluk Allah yang lain. Kasih sayang akan mendatangkan cinta dan menyatukan hati. Sikap keras hanya akan memisahkan hati dan menumbuhkan kebencian.

Marilah kita membiasakan diri untuk meminta maaf kepada orang lain, memberikan pertolongan dan manfaat untuk sesama dan menjadikan Rasulullah SAW sebagai suri tauladan.

Allah SWT berfirman, “Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan sating berpesan untuk berkasih sayang….” (QS Al-Salad 17).

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa tidak mengasihi, maka tidak akan dikasihi.” (HR Bukhari Muslim).

• Suci Diri
Islam adalah agama yang mengajarkan kebersihan. Islam sangat menganjurkan kepada setiap individu mualim agar selalu menjaga kebersihan badan, pakaian, dan tempat tinggal masingmasing.

Seorang mualim hendaknya menyucikan diri dari najis dan kotoran yang menempel pada pakaian atau badan, karena ketika menghadap Allah SWT seseorang diharuskan bersuci. Ajaran Islam menganjurkan mempergunakan pakaian yang bersih dan yang terbaik untuk bersujud menghadap Allah SWT.

Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku, dan sapulah kepalamu, dan basuhlah kakimu sampai dengan kedua mata kaki; dan jika kamu junub, mandilah.” (QS AI-Maidah: 6).

• Pemaaf
Sifat utama lain yang kita ajarkan kepada anak-anak adalah murah hati, pemaaf, dan berani karena benar.

• Pengetahuan ihwal Akhlaq yang Buruk
Kita juga harus memberi tahu kepada anak-anak kita ihwal akhlaq yang buruk. Diharapkan dengan pengetahuan itu anak-anak bisa menghindar dari hal tersebut.

Sifat yang jelek itu seperti ghibah atau ngerumpi, yakni membicarakan keburukan-keburukan saudaranya sesama mualim dan orang yang dibicarakan itu tidak ada di hadapannya. Perbuatan ghibah itu bisa dalam bentuk perkataan, perbuatan, isyarat, ataupun sindiran.

Kemudian namimah, yaitu perbuatan seseorang yang menukil perkataan seseorang dan kemudian menyampaikannya kepada orang lain dengan tujuan mengobarkan api permusuhan di antara kedua orang tersebut.

Akhlaq tercela lainnya seperti riya’, hasad, ucapan keji, sombong, penyindir, pemalas, marah, kikir, bohong, tamak.

Mereka yang berakhlaq baik biasanya hatinya akan dicondongkan kepada ajaran agama. Mudah bagi mereka menerima nasihat, dan selalu melakukan evaluasi diri. Anak-anak yang tumbuh di tengah keluarga yang istiqamah mengerjakan perintah Allah SWT dan menghindari larangan-Nya insya Allah akan selalu dituntun-Nya dalam pendidikan dan kasih sayang-Nya.

Itulah tadi salah satu contoh kisah teladan Cara mendidik Anak Ala Rasulullah - dan jawaban Bagaimana cara Rasulullah mendidik anaknya agar menjadi baik dan benaryang akan sangat baik bila kita mengambil nilai-nilai positif dari kisah tersebut. Semoga dapat bermanfaat positif bagi anda yang Kisah Teladan ini.

za-enal.blogspot.com

Baca Selengkapnya >>

AL HABIB ZEIN BIN ‘ALI BIN AHMAD BIN ‘UMAR AL JUFRI (Semarang)


Habib Zein Al Jufri dikenal sebagai orang yang tidak banyak bicara, suka beramal shalih, dan akhlaqnya sangat tinggi, la menghormati para ulama, menyayangi para pemuda, dan lembut kepada anak-anak.

Diantara ciri khas akhlak beliau yang terlihat ialah “Kalau datang di suatu majelis, beliau duduk di belakang, dan tidak ingin merepotkan orang lain dengan melangkahi tempat duduk orang lain,” ujar Habib Ahmad Al-Jufri.

Banyak orang merasa ditolongnya. Seperti ketika terjadi banjir di Semarang, ada seseorang yang kebanjiran mendapatkan bantuan beras dan pakaian dari Habib Zen. Di lain waktu orang itu datang ke Habib Zen dan berterima kasih karena sudah dibantu ketika banjir. la mengatakan, ia bertemu Habib Zen pada waktu banjir itu. Saat itu Habib Zen mengenakan sarung, baju, dan peel putih, persis seperti yang dimiliki Habib Zen. “Padahal pada saat itu, saya tahu, Abah ada di dalam kamar rumah karena sakit,” kata Habib Ahmad.

Habib Zen Al-Jufri lahir di Kawasan Petek, Semarang Utara, pada 1911, la adalah salah satu dari empat anak Habib Ali bin Ahmad bin Umar Al-Jufri, Leluhurnya, Habib Umar Al-Jufri, berasal dari Taris, kota kecil antara Seiwun dan Syibam, datang ke Semarang bersama anaknya yang masih kecil, Ahmad. Habib Umar lalu berdagang dan berdakwah di Semarang. Kemudian ia mengawinkan anaknya, Ahmad, dengan putri patih Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Kakeknya inilah yang kemudian membangun rumah gedung di Jalan Petek, yang pada waktu itu merupakan rumah yang tergolong mewah dan besar. Ahmad adalah seorang pedagang yang berhasil, sehingga banyak meninggalkan harta benda.

Zen Al-Jufri kecil bersekolah di madrasah di Semarang, kemudian melanjutkan ke Madrasah Syama’il Al-Huda di Pekalongan dan di Surabaya.

Pada umur belasan tahun, ia pernah belajar ke Hadhramaut, tepatnya di kota Taris, dan salah satu gurunya adalah Habib Idrus Al-Jufri, Palu, pendiri Perguruan Al-Khairat. Di Hadhramaut, ia hanya belajar selama tiga bulan. Kemudi¬an ia diajak pulang ke Indonesia oleh Habib Idrus Al-Jufri.

Di tanah air, Habib Zen masih melanjutkan belajarnya kepada banyak guru, khususnya di Jakarta. Di antaranya, Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi, Kwitang, tetapi yang cukup teratur ia mengaji kepada Habib Abdur¬rahman Assegaf. Sedang di Pekalong¬an, ia belajar kepada Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alatas. Setelah itu ia kembali ke Semarang.

Rumahnya di Jalan Petek di Se¬marang merupakan persinggahan para habib bila lewat ke ibu kota Jawa Tengah itu. Hampir setiap Sya’ban, Habib Abubakar Assegaf, Gresik, Habib Salim Bin Jindan, Jakarta, Habib Ali bin Husein Alatas, Bungur, Habib Soleh Tanggul, dan yang lainnya, menginap di rumah¬nya. “Kalau para pembesar dari kalangan habaib datang ke rumah Abah, pasti kami adakan pembacaan Maulid dan rauhah,” tutur Habib Ahmad.

Kepada para tokoh habaib itu, Habib Zen selalu berujar, “Masukkan nama ana di hati antum, supaya antum cintai.”
Habib Abubakar Assegaf Gresik menjawab, “Melihat langsung wajah antum, nama antum tersimpan dalam hati ana.” Waliyullah dari Gresik itu menambahkan, “Akhlaqmu, Zen, sebagaimana namamu.” (Zen dalam bahasa Arab berarti “perhiasan” atau “bagus”).

Pada tahun 1950-an, Habib Zen membaca kitab Ihya’ Ulumiddin untuk beberapa pendengar, dan menjelaskan dalam bahasa Arab. Namun karena jama’ah semakin bertambah, pengajian diganti de¬ngan membaca kitab-kitab Habib Abdullah Al-Haddad, seperti An-Nashaih Ad- Diniyyah, dan ditambah Tanbihul Ghafilin.
Pengajian itu berjalan hingga Habib Zen meninggal pada Desember 1992, dimakamkan di Pemakaman Bergota, Semarang.
Seorang janda di Gresik sehari sebelum Habib Zen meninggal berujar, “Orang yang menjatah saya sekarang sudah tidak ke sini lagi.”

Habib Zen memang tidak pemah meninggalkan Haul Habib Abubakar Assegaf Gresik. Di tempat itu, ia suka memberikan jatah uang kepada orang miskin.

Kini banyak generasi muda yang hanya mengenal namanya tetapi belum tahu manaqibnya. Menurut Habib Hasan Al-Jufri dan dua rekannya, Habib Abddurahman Bin Smith, M.A., dan Habib Ghazi Shahab, Habib Zen Al-Jufri adalah ulama besar yang dikenang umatnya bukan karena semata-mata ilmunya, melainkan lebih karena akhlaqnya yang luhur.

Narasumber : “Habib Ahmad bin Zein Al Jufri” (Anak Habib Zein Al Jufri)
Baca Selengkapnya >>

Lengsernya Gus Dur antara Politik Dan Korupsi

 
Akhir 2012 kemarin, menjelang peringatan tiga tahun wafatnya Gus Dur, masyarakat kembali diributkan oleh isu kurang sedap menyangkut lengsernya Gus Dur dari kursi kepresidenan pada 2001.

Dalam pekan terakhir bulan November ramai diberitakan, Sutan Bhatoegana mengatakan dalam sebuah diskusi terbuka Gus Dur jatuh karena terkait kasus korupsi Bulog dan dana bantuan dari Brunei. Selanjutnya pada pekan kedua bulan Desember ada berita yang lebih panas. Dalam ujian akhir madrasah aliyah di Jawa Barat ada satu pertanyaan yang dalamkuncijawabannya menyebutkan bahwa jawaban yang benar adalah Gus Dur dilengserkan karena kasus Bulog dan Brunei.

Kabarnya materi ini merujuk pada buku sejarah yang ditulis SH Mustofa dkk yang diterbitkan Penerbit Pusat Pembukuan Depdiknas Jawa Barat. Kedua berita itu menyulut ketersinggungan warga NU. Berbagai kecaman muncul,ada yangmelakukan demo ke kantor partai politik tertentu,ada yang mengecam lewat media massa, ada yang melakukan istigasah sambil menangis histeris. Memang sejarah harus diluruskan bahwa Gus Dur itu jatuh murni karena kekalahan dalam pertarungan politik dan bukan karena hukum pidana korupsi.

Berdasar fakta yang belum lama berlalu, Gus Dur dilengserkan bukan karena kasus korupsi Bulog dan Brunei, meskipun kegaduhan politik yang mendahuluinya memang diramaikan oleh kedua kasus tersebut. Gus Dur diberhentikan melalui Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat (SI MPR) tanggal 23 Juli 2001 dengan Tap MPR Nomor II/MPR/2001 karena telah mengeluarkan maklumat (dekrit) pembubaran MPR/DPR.

Sebenarnya undangan SI MPR yang memberhentikan Gus Dur semula menggunakan alasan karena Presiden mengganti Kapolri Soerojo Bimantoro dengan Chaeruddin Ismail tanpa meminta persetujuan DPR.Menurut Tap MPR Nomor VII/MPR/2001 pengangkatan panglima TNI dan kepala Polri oleh Presiden itu harus mendapat persetujuan DPR lebih dulu. Karena saat itu Presiden langsung memberhentikan Kapolri dan mengangkat Kapolri baru maka diadakanlah SI MPR untuk meminta pertanggungjawaban Presiden.

Namun, pada dini hari menjelang SI MPR itu Presiden mengeluarkan maklumat yang membubarkan MPR/DPR.Maksud Presiden,mungkin, agar SI MPR tak bisa terselenggara karena sudah dibubarkan.Akan tetapi, MPR menolak maklumat itu. Dan atas fatwa Mahkamah Agung (MA),maklumat itu inkonstitusional,maka SI MPR tetap diselenggarakan dan langsung memberhentikan Presiden yang selain tidak mau hadir juga dinilai telah melanggar konstitusi.

Dengan demikian, pemberhentian Gus Dur pada saat itu bukan karena kasus Bulog dan Brunei,melainkan karena (alasan semula) Presiden mengganti Kapolri tanpa persetujuan DPR dan kemudian Presiden mengeluarkan maklumat pembubaran MPR/DPR yang menurut MA adalah inkonstitusional.

Kasus Bulog dan Brunei

Sejak delapan bulan sebelum pelengseran Gus Dur, dunia politik dihebohkan oleh kasus Bulog dan Brunei.Pada waktu itu ada dana Bulog sebesar Rp35 miliar yang dibobol tanpa prosedur. Ada juga pemberian zakat dari Sultan Brunei sebesar Rp14 miliar yang dianggap sebagai pelanggaran karena oleh Presiden langsung disalurkan tanpa dilaporkan ke kas negara.

Atasdasar itu, DPR membentuk panitia khusus yang pada akhirnya berkesimpulan bahwa Presiden “patut diduga” terlibat dalam penyalahgunaandana-danatersebut. Itulah sebabnya DPR menjatuhkan impeachment dalam bentuk Memorandum I dan Memorandum II. Proses hukum atas kasus tersebut sebenarnya sudah jelas. Untuk kasus Bulog sudah dihukum dua orang,yakni Suwondo dan Sapuan.Awalnya Suwondo yang dikenal sebagai teman yang suka memijat Gus Dur membawa Sapuan yang pejabat di Bulog berkenalan dengan Gus Dur.

Sepulang dari istana rupanya Suwondo dan Sapuan berhasil mengeluarkan dana Bulog yang katanya diperuntukkan bagi keperluan penanganan krisis oleh Presiden. Di pengadilan pidana terbukti bahwa pembobolan dana Bulog tersebut tak terkait dengan, tepatnya dilakukan tanpa sepengetahuan, Presiden sehingga Suwondo dan Sapuan dijatuhi hukuman pidana. Dalam pada itu, sumbangan dana dari Brunei yang oleh Gus Dur disalurkan melalui Yayasan Aswaja (Ahlussunnah wal Jamaah) tidak bermasalah hukum karena dana itu bukan diminta atau diberikan melalui negara; apalagi saat itu belum ada undang-undang yang mengatur gratifikasi.

Dalam kaitan ini,Presiden sudah diperiksa oleh Jaksa Agung secara proyustisia dan jaksa agung mengumumkan secara resmi bahwa Presiden bersih dari soal hukum dalam kasus tersebut.Jadi,secara hukum pidana, tak ada keterlibatan korupsi Gus Dur dalam kasus Bulog dan Brunei. Pemberhentian Gus Dur itu murni merupakan akibat pertarungan politik. Bahwa Gus Dur kalah dalam pertarungan itu tentu harus diterima sebagai fakta politik yang tak terelakkan.

Sebab, produk pertarungan politik itu adalah menang, kalah, atau kompromi; beda dengan hukum yang mendasarkan pada benar dan salah. Saat itu memang belum ada Mahkamah Konstitusi (MK) yang berwenang menilai secara hukum apakah seorang presiden bisa dimakzulkan atau tidak. Sekarang kita sudah mempunyai MK, sebuah lembaga yudikatif, yang harus memberi penilaian hukum terlebih dulu sebelum seorang presiden dimakzulkan.●

MOH MAHFUD MD
Guru Besar Hukum Konstitusi


Sumber
Baca Selengkapnya >>

Pencucian KUBAH HIJAU MAKAM ROSUL SAW


Ini adalah gambar ketika KUBAH HIJAU MAKAM ROSUL SAW di cuci.

Berikut versi videonya:


Download Video


Sekilas sejarah tentang KUBAH HIJAU:

Kubah tersebut di bangun diatas kamar Nabi dan Sayyidah Aisyah ra pada masa Raja Qolawuun di tahun 678 H.

Pada masa Sultan Hasan bin Muhammad bin Qolawuun di Masjid Nabawi terjadi kebakaran yang mana juga menimpa KUBAH HIJAU ini sehingga kubah diperbaiki lagi pada masa Sultan Sya'ban bin Hasan bin Muhammad di tahun 765 H.

Pada masa Sultan Qoytibay tahun 886 H terjadi peristiwa kebakaran yang kedua kalinya yang juga menimpa kubah ini. Dan pada tahun inilah renofasi secara keseluruhan Masjid dan juga kubah ini seperti pergantian batu bata hitam dan penambahan ketinggian kira kira hingga 8 meter.

Penyempurnaan kubah juga dilakukan pada masa Sultan Ghazi Mahmood Al Utsmaniy yang mana sebenarnya di dalam kubah hijau ini masih ada kubah lagi dari batu hitam. Dan juga dimulai nya pengecatan warna hijau hingga tahun 1253 H.

Kemudian di jadikanlah kebiasaan tahunan yakni pembaruan cat kubah hijau tersebut hingga sekarang.

Ringkasan dari situs resmi Masjid Nabawi Madinah Al Munawwaroh:

Sumber Resmi


Semoga bermanfaat^^

Demikian baba naheel melaporkan


Terkait:
Makam Sayyidah Maimunah binti Harits Radhiyallahu Anha
SAQIFAH BANI SA'IDAH
Dua Bait Syair Didua Tiang Pintu Makam Nabi Muhammad Saw
Jabal Magnit
Baca Selengkapnya >>

Kesahajaan Pribadi Bunda Khadijah ra

Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki mengabadikan keagungan Bunda kita dalam kitab al Busro. Beliau di kalangan orang Quraisy disebut wanita suci. Beliau mampu menjaga kehormatannya sehingga semua kalangan tunduk pada beliau saat itu. Padahal saat itu keadaan dan situasi serta budayanya sangat ganas, para wanita direndahkan serta diperlakukan semena-mena. Bunda Khadijah setelah berstatus janda dilirik oleh banyak lelaki kaya raya dan gagah. Oh tidak sekedar dilirik namun diminta secara langsung. Namun semua tawaran para bangsawan dan jutawan Qurais ditolaknya. Bunda kita lebih memilih merawat putra-putrinya sambil membesarkan bisnisnya. Namun demikian beliau tetap saja ada kegundahan saat berstatus janda, maka beliau konsultasi kepada Waroqoh. Hasil konsultasi itulah beliau ada kecondongan kepada seorang pemuda al Amin yang usianya jauh di bawah beliau. Bagaimana mengatasi kondisi usia yang sangat berbeda tersebut. Apalagi di kalangan Quraisy, wanita itu nunggu pinangan lelaki. Sangat tabu jika wanita yang ngrayah. Berbeda dengan budaya di daerah kami, Lamongan justru lelaki yang nunggu lamaran wanita. Uenak jika jadi joko di Lamongan. Nah dalam menyiasati pilihannya, maka Bunda kita mengutus seorang wanita yang bernama Nafisah binti Ummayah untuk PDT kepada pilihannya. Bunda Nafisah masih kerabat dekat pemuda yang dipilih oleh Bunda Khotijah. Nah tugas mulya diemban oleh Bunda Nafisah. Beliau melakukan PDT. Beliau diawal perbincangan menasehati al amin sebagaiman seorang bunda nasehati putranya. Beliau meyakinkan kepada al amin perihal pentingnya menikah. Sang al amin memberi jawaban bahwa dirinya hanya seorang yang tidak memiliki apa-apa untuk diberikan kepada wanita yang akan menjadi istrinya. Bunda Nafisah menyematkan misi mulya dengan nasehat bahwa semua keadaan itu bukan halangan untuk tidak menikah. Apalagi al amin dikagumi orang Mekah karena akhlak dan kejujurannya. Maka Bunda Nafisah menyakinkan, bahwa semua orang tua tentu mengharapkan al amin untuk meminang putri mereka. Akhirnya Bunda Nafisah menyatakan bahwa wanita yang paling patut menjadi istrinya adalah Bunda Khadijah. Pertimbangan yang disampaikan adalah Bunda Khadijah adalah wanita yang cantik, kaya, terjaga kehormatan dan nasabnya, memiliki kecerdasan, kehormatan, serta keluhuran Tentu sang pemuda tersebut kaget karena yang disebut oleh Bunda Nafisah adalah juragannya. Tentu saja hal itu sesuatu yang berlebihan dan kayaknya ndak mungkin deh. Sang pemudapun bertanya, "darimana ia akan memperoleh harta untuk membayar mahar Bunda Khadijah?" Maka Bunda Nafisah menjawab bahwa kalau sang pemuda sepakat untuk menikah dengan Bunda Khadijah, maka urusan mahar akan diurusnya. Dari sinilah perubahan sebuah tradisi yang memihak dan menghormati wanita. Jika wanita berhak untuk mengatur urusan-urusannya sendiri, mengapa ia tidak boleh memilih seorang lelaki, seorang pemuda untuk menjadi pendamping hidup dan ayah bagi putra-putrinya? Nah seusai Bunda Nafisah menyampaikan hasil PDTnya, maka Bunda Khadijah mengajak meeting al amin di kekediamannya.Disana,dengan berani. Nah dengan keberanian yang luar biasa Bunda Khadijah curhat secara langsung dengan keputusan meminangan al amin. "Wahai anak pamanku, aku berhasrat untuk menikah denganmu atas dasar kekerabatan, kedudukanmu yang mulia, akhlakmu yang baik, integritas moralmu, dan kejujuran perkataanmu." Demikianlah bahasa curhat Bunda Khotijah. Tentu saja sanget berbeda dengan bahasa para janda galau zaman modern saat ini. Al Aminpun menerima pinangannya, ringkas kisah beliau menyiapkan 20 ekor unta untuk dijadikan mahar. Nah sementara para pemuda di sekitar kita maharnya rata-rata 500) hingga 1 juta. Nah, coba dibandingkan jika 1 unta harga 17 juta? Wooww? Gede banget kan?

Sumber Imam Mawardi


Artikel Terkait:



Baca Selengkapnya >>

Jika Anda Menyukai Artikel-Artikel Di Blog Ini Silahkan Masukkan Email Anda Untuk Mendapatkan Update Blog Ini

Masukkan Email